Tim Cassava di Web TIP UGM

Innovative Entrepreneurship Challenge ITB adalah lomba inovasi bisnis bagi mahasiswa seluruh indonesia. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2005-2006 untuk mendorong mahasiswa seluruh indonesia mencurahkan bakat, ide, dan usahanya untuk membentuk usaha baru dari inovasi yang mereka hasilkan. Diharapkan dari lomba ini lahir perusahaan-perusahaan baru yang terdepan dalam bidangnya.

Berikut ini adalah tim pemenang 10 besar IEC 3 ITB :

1. Chocolaa Food Manufacture
2. Dwi Rasindo Co.
3. F1kopy
4. FFS Company
5. La Tisha Beauty Co
6. MIY Corp.
7. Natta De Cassava
8. NUCI Makmur Sentosa
9. PT Jaya Pangan Sejahtera
10. WedOcaR

Tim Natta De Cassava dan NUCI Makmur Sentosa ini merupakan kelompok mahasiswa Teknologi Industri Pertanian FTP UGM. Tim NUCI Makmur Sentosa yang beranggotakan Arini Kusumaningtyas (TIP 05), Rosa Amalia S (TIP 06), dan Bunga Heni S (TIP 06) membuat produk gula semut. Sedangkan Kelompok Natta De Cassava yang beranggotakan N. Kartika Indah M (TIP 05), Indra (Biologi 05) dan Farid (Ilmu Ekonomi 05) membuat produk Nata yang hasilkan dari limbah tapioka. Tim-tim ini diuji melalui kemampuan untuk membuat Business Plan dan mempresentasikannya di hadapan tim juri.

Prestasi membanggakan di ajang IEC bukan kali pertama diraih oleh tim dari mahasiswa TIP. Pada tahun 2006, kelompok Dream Corporation dengan diketuai Andi Bagus (TIP 03) membuat EsKrim Yoghurt juga mampu unjuk gigi bersama tim mahasiswa kreatif lainnya dari seluruh Indonesia.
Mari dukung terus prestasi mahasiswa melalui ajang-ajang kreatif bergengsi seperti ini.

Sumber : TIP UGM

Potensi Bahan Baku

Indonesia termasuk sebagai negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga (13.300.000 ton) setelah Brazil (25.554.000 ton), Thailand (13.500.000 ton) serta disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton)dari total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun (Bigcassava.com, 2007).
Salah satu jenis industri yang cukup banyak menghasilkan limbah adalah pabrik pengolahan tepung tapioka (tepung singkong). Dari proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka, dihasilkan limbah sekitar 2/3 bagian atau sekitar 75% dari bahan mentahnya. Limbah ini biasa disebut onggok .  Warga sekitar pabrik tapioka sangat akrab dengan Bahan yang  bernama onggok dan tahu persis sedahsyat apa baunya. Dalam keadaan kering sekalipun, onggok sudah mengeluarkan bau tak sedap, apalagi dalam keadaan basah saat musim hujan. Tidak mengherankan bila sering terdengar keluhan para penduduk sekitar pabrik pengolahan tepung tapioka seperti didaerah Mesuji, Menggala, Way Jepara (Lampung), atau di sekitar Tayu (Pati), dan di Tasikmalaya (Jawa Barat) (Amri, 1998).Onggok merupakan limbah atau hasil samping proses pembuatan tapioka ubikayu. Ketersediaannya terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka. Hal ini diindikasikan dengan semakin luas areal penanaman dan produksi ubikayu. Luas areal tanaman meningkat dari 1,3 juta hektar dengan produksi 13,3 juta ton pada tahun 1990 menjadi 1,8 juta hektar dengan produksi 19,4 juta ton pada tahun 1995 (BPS, 1996). Dilaporkan pula bahwa onggok tersebut memiliki potensi sebagai polutan di daerah sekitar pabrik.  Penggunaan onggok dalam penyusunan pakan ternak sangat terbatas, padahal kandungan serat kasar yang tinggi (lebih dari 35%).
Berdasarkan kontribusi terhadap produksi nasional terdapat sepuluh propinsi utama penghasil singkong yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Sumatera Selatan dan Yogyakarta yang menyumbang sebesar 89,47 % dari produksi Nasional sedangkan produksi propinsi lainnya sekitar 11-12 % .Di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di Kabupaten Gunung Kidul dari tahun 1998 sampai dengan 2005 mengalami fluktuasi produktivitas anatar 127 kw/ha samapi 174 kw/ha dan produksi tertinggi sebesar 812.321 ton.(Martono dan Sasongko, 2007)

Potensi Hak Paten Nata de Cassava

Keberhasilan penemuan produk baru Nata de Cassava memberikan peluang besar untuk diburu berbagai perusahaan nata sebagai alternatif pengganti  kelapa karena murah dan melimpah. Oleh sebab itu penemuan baru ini harus diajukan ke badan paten indonesia yaitu HKI. Dengan perlindungan hukum tersebut akan memperkuat bargaining dari produk nata de cassava .

Nata de Cassava!

Nata de Cassava merupakan terobosan inovasi baru produk makanan berserat yang sangat layak masuk dalam persaingan industri makanan di Indonesia. Produk nata yang mendominasi pasar nata selama ini yaitu nata de coco mempunyai permasalahan dalam keterbatasan bahan bakunya berupa air kelapa. Hal ini menyebabkan permintaan pasar yang tinggi akan nata tidak dapat terpenuhi. Ini merupakan suatu peluang  yang terbuka lebar bagi perusahaan pengembang produk nata de cassava untuk memenuhi permintaan pasar nata bahkan untuk menggantikan posisi nata de coco dalam pasar nata di Indonesia.
Dengan bahan baku yang berasal dari limbah tapioka, nata de cassava akan muncul menjadi produk yang kokoh karena bahan bakunya berasal dari cassava, yang mana Indonesia merupakan penghasil cassava terbesar ketiga di dunia (13.300.000 ton/tahun). Sehingga untuk ketersediaan bahan baku, nata de cassava tidak akan menjadi masalah. Proses yang lebih ekonomis karena tidak dibutuhkan adanya penambahan gula menjadikan Nata de Cassava merupakan ancaman berat bagi nata yang lain. Selama ini pembuatan nata de coco masih membutuhkan penambahan gula, sehingga untuk skala produksi nata de cassava lebih ekonomis dan efisien. Selain itu nata yang dihasilkan lebih kenyal, tebal dan lebih putih.
Pasar yang jelas untuk nata de cassava yaitu perusahan CV. Agrindo Suprafood yang siap menerima nata de cassava sebesar 80 ton per minggu membuat bisnis ini dapat mudah direalisasikan dan memiliki prospek yang jelas dimasa depan.
Keunggulan yang ditampilkan pada bisnis ini adalah inovasi limbah tapioka baik padat maupun cair yang dimanfaatkan menjadi produk unggulan makanan berserat nata de cassava. Dengan adanya nata de cassava dapat memberi solusi bisnis dengan meningkatkan nilai ekonomis limbah tapioka sebagai variasi produk nata. Bahan baku yang melimpah ruah dan murah merupakan kekuatan utama nata de cassava sehingga memudahkan dalam kepastian ketersediaan bahan baku. Kemantapan produk ini didukung lagi dengan proses dan bahan yang sederhana yang membuat bisnis ini menjadi layak dan dipastikan mendatangkan profit.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.